Naskah Monolog Dua Cinta Karya N. Riantiarno
/
0 Comments
Dari kemarin sering update naskah dari para anggota teater tiyang alit. Oke, kali ini www.tiyangalit.com akan berbagi sebuah naskah monolog yang berjudul "Dua Cinta" karya N.Riantiarno. Selemat menikmati dan semoga bermanfaat.
Dua Cinta
TAMAN KOTA, PADA SUATU SORE. AS BICARA,
SEAKAN IS --SAHABATNYA -- DUDUK DI DEKATNYA. SEPI. BURUNG-BURUNG BERSIAP TIDUR
DI SARANG. PADA KENYATAANNYA: AS, ADALAH JUGA IS)
AS
Tidak. Tidak.
Makin lama aku semakin yakin, nasibku jauh lebih baik dibanding nasibmu. Lihat
seluruh wujud dirimu! Kamu nampak lebih tua. Padahal umur kita sebaya. Aku
yakin batinmu menderita. Salah sendiri, kenapa kamu pilih Sis. Apa dia? Siapa?
Apa hebatnya? Kaya? Luar biasa? Jenius? Nol besar. Cuma kantung nasi. Banyak
sekali kekurangannya. Dia sama dengan kekurangan. Gampang bosan, dan waktu itu,
lontang-lantung. Kantungnya selalu kosong. Bahkan dompet pun dia tak
punya.
Sis parasit.
Benalu bagi keluarganya. Dan aku tidak mau menikah dengan lelaki yang
jelas-jelas kasih isyarat tak akan mampu bertanggungjawab. Sekali benalu, sulit
diperbaiki. Masih begitu ‘kan
dia sekarang? Aku tak percaya Sis sudi mengotori tangan, bekerja banting tulang
demi keluarga. Sis bukan tipe seperti itu. Dia priyayi, menak, yang
mengharapkan segala sesuatunya sudah tersedia di atas baki emas. Tinggal
mengunyah seperti kerbau. Lebih gemar bermalas-malasan, tapi maunya selalu
dihormati.
Sis memang
ganteng. Arjuna. Rama. Banyak gadis tergila-gila. Mabok kepayang. Lupa diri,
tidak peduli, asal bisa selalu dekat. Aku, kamu, Maria, Tuti, Meinar, Dewi, dan
masih banyak lagi yang kena jerat kegantengannya. Tapi wajah ‘kan bisa berubah. Sekarang badannya pasti
mulai gemuk. Perut buncit, rambut di kepala rontok, menipis, malah mungkin
sudah botak dia. Berapa gigi yang copot? Sudah pakai gigi palsu? Jalannya? Kian
lamban ‘kan ?
Pasti berbagai penyakit datang. Darah tinggi, gula, asam urat, rematik,
jantung. Entah bagaimana dia di ranjang. Apa masih suka bikin kejutan, dan
tiba-tiba menyerang? Atau, sudah tak mampu lagi dia?
(TERTAWA)
Jangan
tersinggung. Jangan marah. Cuma bercanda. Kami belum pernah saling menyentuh.
Mimpi-mimpi remaja cuma kusimpan dalam benak. Jeratmu ternyata jauh lebih
ampuh. Sis menyerah, tak berkutik. Sejak itu dia tak mau lagi menengok
gadis-gadis lain. Cuma kamu. Aku akui, itulah hari berkabung bagi kami semua.
Hari ketika sumpah serapah meledak dan kamu dibenci banyak gadis. Nasib.
Takdir. Pernikahan kalian. Sialan.
Mungkin
takdir juga yang mempertemukan kita di sini. Tidak tahu, untuk apa kamu di
sini. Tidak tahu juga mengapa aku ke mari. Tapi aku tahu, dulu kalian sering
bercintaan di sini. Di bangku ini. Jangan salah sangka, aku tidak pernah
mengintip. Cerita itu sudah jadi rahasia umum. Kami sering menggosipkannya
dengan hati kesal dan cemburu.
Orang bilang,
kalian paling suka diam berjam-jam sambil berpegangan tangan. Duduk rapat. Lalu
dia memeluk kamu, membelai rambut kamu, menyentuh pipimu, kamu memejamkan mata
dan dia mencium bibirmu. Lalu adegan seperti dalam film-film Barat kalian
lakukan. Kamu sogok penjaga taman supaya kalian bisa bebas berbuat mesum,
sepuasnya. Kamu jerat Sis di taman ini, dengan cara kasar, taktik murahan. Dan
makin sering kamu rayu, semakin erat dia terjerat. Tak mungkin lagi bisa
lepas.
(TERTAWA)
Ah, untuk apa
cerita itu diulang lagi? Tidak ada gunanya. Berapa anakmu sekarang? Sepuluh?
Limabelas? Berapa perempuan berapa lelaki? Mirip siapa wajah anak-anakmu? Sis?
Kamu? Atau, kalian tidak ada anak sama sekali? Maaf jika dugaanku tadi salah.
Harus kuakui, pasti karena cemburu. Mungkin kalian bahagia. Memang, seharusnya
kita tetap bersahabat seperti dulu sebelum Sis jadi batu sandungan bagi
hubungan kita. Seharusnya kita bisa melupakannya. Harus. Toh masa lalu tidak
mungkin kembali. Mana mampu kita mengubah mundur jarum waktu? Mustahil.
Waktu
undangan pernikahan kalian kami terima, jujur kuakui, seketika hati kami luka.
Luka paling buruk. Tak ada darah mengucur, tapi sakitnya bukan alang kepalang.
Kami merasa kalah, dikhianati, hancur. Kenapa justru kamu?
Ada yang
meraung-raung. Marah. Menangis seminggu. Ada
yang langsung pulang kampung karena putus-asa. Maria malah sudah siap-siap
gantung diri. Untung ketahuan ibu asrama dan sempat dicegah. Tuti paling parah.
Hampir saja otaknya tak bisa disembuhkan. Dia sempat dirawat di rumah sakit
jiwa, dan sekarang jadi kembang rumah plesiran di Surabaya . Aku? Aku sakit panas dua bulan.
Demam. Mengigau. Menganggap dunia sudah kiamat.
Heran. Siapa
Sis? Mengapa begitu banyak gadis yang patah hati? Apa kelebihannya? Apa bedanya
dengan pemuda-pemuda lain? Tapi, aku pun tahu, betapa besar pengaruh cintaku
kepada Sis. Dulu, aku sering diganggu keinginan, mencari alamat kalian. Dan kalau
sudah ketemu, ingin kubunuh dia. Kucacah-cacah tubuhnya. Kusebar di jalanan,
biar jadi makanan anjing. Sudah dia jatuhkan putusan, menandatangani nasib
jelek puluhan gadis yang tak berdosa. Apa dia berhak? Sinting. Edan. Setan. Sis
tidak punya hak berbuat sekeji itu. Kami sengsara, serasa mati dalam hidup yang
merana. Dia nyaman, enak, nikmat, hidup berumahtangga, punya anak, bahagia. Dia
tidak peduli apa yang dialami gadis-gadis yang ditinggalkannya. Tidak peduli
janji-janji asmara
yang pernah dia ucapkan kepada kami. Tidak peduli.
Kamu pasti
tahu, atau paling tidak, merasa, Sis punya hubungan dengan banyak gadis. Dia
seperti lalat, menyebar telurnya sembarangan. Dan kami, yang sudah dia buahi,
hidup seperti belatung, coba menggapai langit, sendirian, lalu mati begitu
saja. Dia ungkap tipuan asmaranya kepada setiap gadis yang tak sadar sudah
dibohongi berkali-kali. Bagai ular dia mengigit dan menyesapkan racun di jiwa
kami. Kami kena racun cinta Sis. Celakanya, kami rela dipermainkan. Pasrah,
percaya saja, dan masih terus menyimpan harapan, mungkin, pada suatu saat,
cinta Sis akan datang. Sialan.
Sis mata
keranjang, don yuan picisan. Pedagang cinta. Pencipta air mata. Mau menikah
denganmu pasti ada maunya. Tapi, mungkin juga kamu yang terpandai memasang tali
jerat. Bisa dipahami kalau Sis bertekuk-lutut.
Kamu
bersiasat, menjebloskan Sis ke dalam suatu dilema sehingga dia terpaksa
mengambil tanggungjawab itu. Ayo, Is, tidak perlu membantah. Semua tahu. Aku
marah kalau kamu menyangkal. Cerita sudah beredar, gosip terlanjur menyebar.
Seluruh kota
tahu. Kamu sebar kabar, Sis-lah bapak anak yang tengah kamu kandung. Kamu
tuntut supaya Sis segera menikahimu. Padahal apa nyatanya?
Tidak ada
bayi dalam kandunganmu, tidak ada kehamilan. Tidak ada alasan untuk
bertanggungjawab. Sialan. Sis bisa bebas. Tapi dia tetap memilihmu. Dan waktu
Sis akhirnya berikrar di depan penghulu, kamu puas. Taktik kasar, tipuan basi,
tapi harus diakui, di tanganmu, masih tetap ampuh.
Ah, sudahlah.
Semua sudah sejarah. Dan nyatanya aku harus bersyukur karena tidak menikahi
Sis. Belum tentu bisa kutemukan bahagia. Apalagi jika Sis tetap malas,
pengangguran, dan lontang-lantung. Lalu bagaimana nasib anak-anakku? Harus
rajin meminta bantuan kepada ayah-ibu dan saudara-saudaraku. Sampai kapan
mereka bisa tahan? Lalu, kalau mereka sudah bosan dimintai tolong, kami akan mengemis
di jalanan.
(SEJENAK
HENING)
Mengapa diam
saja? Mengapa tidak berterus terang? Aku buta keadaan kalian. Hanya bisa
meraba-raba, menduga-duga. Apa betul kalian bahagia? Atau sengsara? Is, bicara!
Apa? Bagaimana kondisi keuangan kalian? Sudah punya rumah sendiri? Atau masih
kontrakan? Atau kalian menumpang di rumah saudara? Punya mobil? Telepon? Teve?
Lemari es? Mesin cuci? Microwave? Punya kolam renang di halaman belakang
rumah? Atau kalian cuma peminta-minta? Bicara! Is, bicara! Aku akan mendengarkan
saja!
(MENUNGGU
LAMA. TAK SEPATAH PUN JAWABAN)
Baiklah.
Mungkin kamu enggan. Tidak apa. Aku rela cerita lebih dulu, dengan jujur. Tapi
janji, sesudah aku, giliran kamu. Dan kamu juga harus cerita semuanya dengan
jujur. Begitu? Baik. Aku mulai kisahnya.
Sesudah
kalian menikah, dan aku sembuh, aku berkenalan dengan seorang pemuda. Anak
tunggal konglomerat pemilik pabrik besar pengolahan batubara di Kalimantan,
juga pemilik hotel-hotel bintang lima di Surabaya dan Jakarta .
Kami bercintaan hanya beberapa bulan, kemudian aku dia lamar. Kuterima
lamarannya. Hidup selanjutnya sudah bisa kamu tebak. Ya ‘kan ? Dia pewaris usaha keluarga. Kami
bahagia. Anak lima .
Dua lelaki, tiga perempuan. Kini, aku punya semua yang diimpikan perempuan.
Rumah besar dan mewah, dengan halaman luas di depan dan belakang. Kebun
ditumbuhi rumput Swiss, palem, oliander, beringin, flamboyan, sawo dan agave. Ada kolam renang air
dingin dan panas di halaman belakang. Hidup serasa di surga. Seperti raja dan
ratu, apa saja yang diminta segera tersedia.
Sekarang ini
kami sedang menjalani bulan madu kedua. Kami mengunjungi tempat-tempat yang
pernah menjadi kenangan, bagiku dan bagi suamiku. Kami mengunjungi kota ini juga. Aku sengaja
mendatangi taman ini, sementara suamiku menggelar pertemuan dengan para
birokrat, membahas prospek masa depan kemajuan kota . Sungguh tidak terduga, aku bisa ketemu
kamu di sini. Ini sungguh luar biasa. Is, itulah seluruh kisahku. Tidak banyak
gejolak. Sederhana. Kisah hidup orang biasa yang bahagia. Sekarang giliran
kamu. Apa saja yang terjadi sesudah kalian menikah?
(DIAM. TAK
ADA JAWABAN)
....................................................................................




