Di sebuah desa bernama Munggulwarno tinggallah seorang ayah beserta dua orang anaknya bernama Andi dan adiknya Mahmud. Ayah mereka yang...

Cerpen Pilihan

/
0 Comments


Di sebuah desa bernama Munggulwarno tinggallah seorang ayah beserta dua orang anaknya bernama Andi dan adiknya Mahmud. Ayah mereka yang bernama Haris suda empat belas tahun menduda akibat sang istri bernama Sura meninggal dunia karena kanker yang dideritanya. Saat itu usia Mahmud belum genap sepuluh tahun. Hari-hari mereka jalani layaknya keluarga harmonis, Haris banyak mengajarkan liku kehidupan pada kedua anaknya layaknya seorang ayah bahkan ibu.

Di suatu hari, tapat pukul enam belas nol nol, Haris mengajak kedua anaknya pergi ke hutan. Seperti biasa mereka pergi untuk mencari kayu bakar. Belum sempat masuk ke dalamnya, Haris memanggil kedua anaknya dan memberi sedikit petuah

Haris : "Andi! Mahmud! Sinilah cepat, ayah ingin berkata sesuatu"
Andi : Ada apa ayah?"
Dengan suara agak berat Haris menjelaskan sesuatu
Haris : "Kau dan Mahmud, masuklah kehutan itu bersama, ambillah satu kayu bakar yang disukai. Syaratnya jika sudah kau ambil salah satu kayu tersebut, berjalanlah keluar dan jangan ambil kayu yang lain. Ayah tunggu di seberang"

Selesai menjelaskan pada anaknya, Haris berjalan terlebih dahulu ke seberang hutan. Kedua anaknya masih berfikir sejenak apa maksud perkataan ayahnya. Dan tidak lama kemudian, mereka masuk kedalam hutan dengan jalan yang berbeda

Andi berjalan lewat sisi kiri hutan, ia melihat banyak kayu dan ia menuju pada satu kayu yang besar dan ia berkata, "Wah kayu ini besar dan bagus, tapi pasti didepan ada yang lebih bagus lagi". 

Lalu dengan perlahan ia meninggalkan kayu pertama. Ia terus berjalan dan menemukan kayu yang terlihat lebih kuat, ia kembali berkata, "Nah sudah ku kata ini lebih bagus dari kayu yang pertama, kalau begitu aku akan mengambil yang ini saja"

Saat ia bergegas akan mengambilnya, ia berfikir kembali, "Tapi jika aku ambil yang ini, pasti di depan ada yang lebih bagus lagi? Ah sudahlah aku ambil nanti saja"

Penuh semangat ia kembali berjalan menyusuri hutan, mencari kayu terbaik menurutnya. Namun tak ditemukan kayu yang terlihat kuat ataupun besar seperti yang telah ia temukan sebelumnya. Karena penasaran ia berjalan semakin cepat dan pada akhirnya ia terkejut bahwa ia sudah berada di seberang hutan dengan Haris yang telah menunggunya.

Haris : "Andi? Mana kayumu? Bukankah ayah telah menyuruhmu memilih satu kayu?" 
(dengan senyum kecil)

Andi : "Maa..maaf ayah, aku banyak menemukan kayu yang besar bahkan kuat dan aku sukai, namun aku berfikir bahwa aku akan menemukan kayu yang lebih baik didepan, tapi tanpa sadar aku sudah menghabiskan hutan ini dan telah berada di seberang". 

Tak lama kemudian Mahmud, sang anak bungsu keluar melalui sisi kanan hutan dengan kayu yang ia bawa.

Andi : "Hei Mahmud nampak kecil dan tua itu kayu, aku tadi didalam banyak menemukan yang lebih besar dari yang kau punya" (tertawa dan bergeleng-geleng kepala)

Haris : "Nah Mahmud, ada apa kau membawa kayu itu kemari?"

Mahmud : "Begini ayah, aku memang melihat banyak kayu didalam sana, dan ayah berkata bahwa kayu yang sudah kita ambil tidak boleh ditukar dengan kayu lain bukan? Aku menemui beberapa kayu, namun tak ada yang ku sukai, lalu ketika aku melihat kayu ini aku ingin mengambilnya. Setelah ku ambil kayu ini, ternyata ku lihat banyak kayu lain yang nampak lebih bagus dari kayuku. Namun, karena aku telah memilih kayu ini maka aku mulai menyukainya. Ku lihat kayu ini memang ringan namun kuat ayah, maka aku suka kayu ini"


Haris tersenyum mendengar perkataan Mahmud. Mungkin Mahmud dan Andi nampak belum paham dengan apa yang ayahnya maksud. Lantas Haris berusaha menjelaskan pada mereka, ya begitulah kehidupan, hidup adalah pilihan. Ibarat kayu itu adalah pasangan hidup, jika suatu saat kalian telah berani memilihnya, maka berusahalah menyukai, menghargai dan menerima apapun ia. Berusahalah setia pada apa yang telah kalian pilih, walaupun banyak yang terlihat indah diluar sana. Tiada salah jika kalian berusaha mencari yang lebih baik, selalu carilah yang pantas dan baik untuk diri kalian. Namun, ingatlah jika engkau mencari yang sempurna maka yang kau dapatkan bukan apa-apa karena tiada yang sempurna di dunia kecuali sang pencipta.

BONUS VIDEO



Baca yang lain

Tidak ada komentar: