Kesutradaraan Dan Keaktoran dalam Teater Modern
/
0 Comments
Seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan
interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran
terhadap alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada
dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta.
Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal dari usaha-usaha perburuan
manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini,
mereka menirukan perilaku binatang buruannya. Setelah selesai melakukan
perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa
syukur” mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta.
Ada juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM
dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan
serta difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan serta dihadiri oleh
manusia yang lain. The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti
seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon
dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya
theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan,
kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun demikian,
teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno,
Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan Drame yang berasal dari kata
Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan
lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang
lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti
penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap telah
ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM).
Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan
perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks
atau naskah atau lakon atau karya sastra.
Teater modern sebagai seni kolektif
memungkinkan berbagai jenis seni berpadu. Misalnya seni rupa akan sangat
membantu pemain merias wajah dan tubuh mereka melalui unsur warna dan garis
untuk menciptakan karakter tokoh. Seni rupa juga sangat membantu penata
panggung dan penata cahaya membuat efek-efek khusus untuk menciptakan suasana
yang dikehendaki. Selain seni rupa, teater juga melibatkan cabang seni lain,
misalnya seni sastra, seni gerak, seni tari, seni musik, dan seni peran.
Berbagai cabang seni berbaur dan menciptakan sebuah bangun teater yang disajikan
kepada khalayak ramai.
Selain berbagai cabang seni, teater juga
melibatkan berbagai unsur untuk membangun strukturnya.
Unsur-unsur teater modern di antaranya sebagai
berikut:
1.Naskah
sebagai embrio pertunjukan. Naskah yang baik memperhitungkan formula dramaturgi
yakni mengkhayalkan, menuliskan,
memainkan, dan menyaksikan. Penulis mengkhayalkan suatu peristiwa ke dalam bentuk gagasan atau ide, dilanjutkan menyusun
kisah berdasarkan pengalaman estetiknya. Kemudian kerabat teater menafsirkan
dan mementaskannya dengan disaksikan penonton.
2.
Produser sebagai penyedia dana pertunjukan.
3.
Sutradara sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dan mempersatukan seluruh
elemen untuk menyukseskan pertunjukan teater.
4.
Pemain sebagai ujung tombak pertunjukan teater karena berhadapan langsung
dengan penonton. Pemain harus hafal naskah dan pengadeganan, pandai berakting,
cerdas, dan cepat berimprovisasi untuk mengatasi permasalahan yang mungkin
terjadi saat pertunjukan.
5.
Penata rias, yang bertugas merias wajah dan tubuh pemain supaya sesuai dengan
karakter tokoh.
6.
Penata busana, yang bertugas mengatur kostum pemain baik bahan, warna, model,
maupun cara mengenakannya.
7.
Penata panggung, yang bertugas menciptakan dekor di atas panggung untuk
memberikan gambaran kepada penonton tentang kondisi sosial, waktu, tempat
kejadian cerita, dan suasana yang harus dimunculkan dalam pertunjukan.
8.
Penata cahaya, yang bertugas menata dan mengatur intensitas serta warna cahaya
di atas panggung. Pencahayaan diharapkan mampu menciptakan suasana tertentu dan
membantu pemain untuk memperkuat karakter yang diperankannya.
9.
Penata suara, bertugas menciptakan suara-suara tertentu dan membuat musik
pengiring untuk membangun suasana dalam pertunjukan teater.
10.
Penonton sebagai saksi pertunjukan, karena pada dasarnya proses teater
dimaksudkan untuk dipertontonkan kepada khalayak.
A. PENYUTRADARAAN DALAM TEATER MODERN
Pada mulanya
pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari
sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita.
Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Sejalan dengan
kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat, maka para aktor memerlukan
peremajaan pemain. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan
pengetahuannya kepada aktor muda. Proses mengajar dijadikan tonggak awal
lahirnya “sutradara”. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut
didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah
yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.Istilah
sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II.
Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater
dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880.
Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan, maka kehadiran seorang
sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik
pementasan dibutuhkan. Meskipun demikian, produksi pementasan teater
Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat
berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen, 1994).
1. Menentukan Lakon
Proses
atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon
yang akan dimainkan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah
jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.
2. Analisis
Lakon
Menganalisis lakon adalah salah satu
tugas utama sutradara. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari
sehingga gambaran lengkap cerita didapatkan. Dengan analisis yang baik,
sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan.
telaah unsur-unsur
pokok yang membentuk lakon. Dalam proses analisis ini, sutradara memepelajari
seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang
tertulis. Jadi,dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang
melalui lakonnya. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah
senagai berikut.
3. Interpretasi
Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan
informasi lengkap mengenai lakon, maka sutradara perlu melakukan tafsir atau
interpretasi.Berdasarkan hasil analisis, sutradara memberi sentuhan dan atau
penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Proses ini bisa
disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan
pengarang. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap
lakon, artinya, ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa
adanya sesuai dengan hasil analisis. Akan tetapi sangat mungkin seorang
sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkan dalam
pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Proses interpretasi biasanya
menyangkut unsur latar, pesan, dan penokohan.
4. Konsep Pementasan
Hasil
akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Dalam konsep ini sutradara
menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitah
dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan
gambaran global tata artistik.
Biasanya
sebelum latihan di mulai, sutradara ketemu para desainer dan mendiskusikan pendekatannya
pada lakon dengan mereka. Mereka juga harus sudah baca dan telaah lakon sebelum
pertemuan, dan karenanya akan bisa mendiskusikannya secara cerdas. Mereka
mungkin tidak sama tafsirannya dengan sutradara, maka bagaimanapun tugas
pertama adalah mencapai kesepakatan juru dasar masalah lakon. Sutradara harus
mau mendengarkan gagasan dan saran mereka, mungkin ada beberapa yang berdunia
dengan konsepsi awal si sutradara. Walhasil, sutradara harus memutuskan
tafsiran mana yang dijalani, dan para desainer harus berupaya bekerja dalam
batasan itu.
5. Casting
Sejauh mungkin jumlah waktu
terbanyak seorang Sutradara di amanatkan untuk kerja dengan para aktor.
Biasanya tugas pertamanya adalah seleksi para aktor untuk melakonkan peran
peran bermacam ragam. Biasanya (dalam perusahaan teater profesional) sutradara
harus menerima Casting yang di seleksi oleh orang lain. Beberapa organisasi
produksi memperkerjakan seeorang direktur casting untuk seleksi aktor, tapi
produksi yang bermacam ragam. Terkadang seorang bintang di ambil dulu sebelum
sutradara di pilih dan maka Casting harus di sesuaikan dengan bintang idealnya,
bagaimanapun sutradara di tetapkan untuk memeilih para pemain sesuai
kompetensinya atas karakter.
Metode yang bermacam macam untuk
melaksanakan Casting, salah satu yang paling lumrah adalah Tryout terbuka,
tujuanya membuka seluas mungkin dalam seleksi aktor siapapun, dan memberikan
semua orang yang berminat kesempatan ambil peran, contoh, di new york city,
dimana terjadi banyak aktor menyebabkan meningkatnya tuntutan, Tryout terbuka
nyaris tak pernah di pakai. Jika pun ada Tryout terbuka, sutradara dan produser
akan mengeluarkan daftar spesifikasi dan menyilahkan agen artis, stage manager,
atau asistennya mencoret aktor yang tak memenuhi persyaratan sutradara mungkin
ingin tahu mereka yang tersisa, tetapi karena waktu terbatas demi hemat biaya,
setiap pelamar mungkin di berikan hanya beberapa menit untuk memajukan
bakatnya. Casting dalam keadaan sepeti itu di laksanakan pada basis kualitas
personal dan ciri fisikal ketimbang demontrasi kebolehan akting. Tryout terbuka
di teater profesional biasanya dilaksanakan dengan makan waktu lebih santai,
dan biasanya hanya ada beberapa calon untuk peran peran bahkan di sinipun
keputusan mungkin di bikin berdasar pengetahuan sangat terbatas tentang
kebolehan akting mereka yang ikut Tryout.
6.
Bekerja dengan aktor
Sementara sutradara berperan sebagai
pemandu dan penafsir bagi semua anggota produksi, upayanya sendiri untuk
mewujudkan rancangan terbatas, terutama pada kerjanya dengan para aktor. Dia
men- supervise latihan, menjelaskan naskah, mengkritik pertunjukan, dan
menyarakan perbaikan, dia berupaya menciptakan atmosfer dimana para aktor
merasa bebas dari ketegangan yang tak perlu mengedesplorasi dan mengembangkan
peran / roll.
Sutradara mesti mencoba lihat setiap
aktor sebagai pribadi yang punya ego. Cotoh , beberapa aktor menerima kritik dengan bijak di depan
hadirin yang lain, sementara komentar depan public begitu membuat aktor lain
menahan diri atau mendebat. Beberapa aktor petama tama mengerjakan aspek
psikologis peran dimana aktor yang lain mempelajari dulu kalimat kalimat dan
gerak pertunjukan panggung. Beberapa aktor perlu di tangani dengan ketat, akor
lain di perlakuan dengan lembut. Sutradara harus fleksibel jika dia ingin mewujudkan pementasan terbaik
dari setiap orang yang di casting.
Sutradara harus juga ingat bahwa ego
aktor biasanya terlibat dalam kerja mereka dalam ciptakan peran/ role, aktor
pakai tubuhnya sendiri, suaranya sendiri, pikirannya dan emosinya sendiri, dia
tak dapat akan meletakkan kreasinya berjarak dan bisa lihat sebagaimana
kebanyakan para seniman lainnya. Kekurangan sebuah pementasan dalam banyak hal
karena aktor tidak memahami atau presepsinya tidak benar terhadap peran atau
balikan kekurangan pribadinya sendiri, serangan pada karyanya mungkin
ditafsirkan sebagai permusuhan pribadi. Sutradara, karenanya harus bijaksana dan
paham.
A.
KEAKTORAN
Mengenal
dan mengolah Tubuh aktor
1. Relaksasi
Realaksasi adalah hal pertama yang haru
dilakukan dengan cara menerima keberadaan dirinya.Relaksasi bukan berarti
berada dalam keadaan pasif (santai) tetapi keadaan dimana semua kekangan yang
ada di tubuh terlepas. Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh aktor
adalah kebutuhan untuk relaksasi. Baik itu di dalam kelas, dalam latihan, di
atas panggung, maupun paska produksi. Relaksasi adalah hal yang sangat penting
bagi semua performer. Relaksasi bukanlah keadaan menta dan fisik yang tidak
aktif, melainkan keadaan yang cukup aktif dan positif. Ini memungkinkan seorang
aktor untuk mengekspresikan dirinya saat masih didalam kontrol faktor-faktor
lain yang bekerja melawan cara pemeranan karakter yang baik. Jadi, relaksasi
adalah hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan utama dari seorang
performer.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian
ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang aktor atas sebuah karakter,
cenderung dapat merusak relaksasi. Aktor pemula biasanya tidak dapat dengan
mudah merespons sebuah perintah untuk relak, hal ini disebabkan berkaitan
dengan aspek-aspek fisik kepekaan dan emosi akting ketika berada dihadapan
penonton. Dengan kata lain, dalam keadaan rileks,aktor akan menunggu dengan
tenang dan sadar dalam mengambil tempat dan melakukan akting. Untuk
mencapai relaksasi
atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah
tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang
aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh
dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang
cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.
2. Ekspresi
Kemampuan Ekspresi merupakan pelajaran
pertama untuk seorang aktor, dimana ia berusaha untuk mengenal dirinya sendiri.
Si aktor akan berusaha meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaanperasaan
yang dimilikinya, agar mencapai kepekaan respons terhadap segala sesuatu.
Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi,
konsentrasi, kepekaan, kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh
yang seimbang) seorang aktor harus terpusat pada pikirannya.
Kita menggunakan cara-cara non linguistik
ini untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara. Tangisan,
infleksi nada, gesture, adalah cara-cara berkomunikasi yang lebih universal
dari pada bahasa yang kita mengerti. Bahkan cukup universal untuk disampaikan
kepada binatang sekalipun.
3. Gesture
Gesture adalah impuls (rangsangan),
perasaan atau reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya
mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam;ketetapan
tubuh, gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar
dalam bentukkata-kata atau bunyi).
4. Gestikulasi
Bahasa tubuh adalah media komunikasi
antar manusia yang menggunakan isyarat
tubuh, postur, posisi dan perangkat inderanya. Dalam media ini, kita
akan memahami bahasa universal tubuh manusia dalam aksi maupun reaksi di
kehidupan sehari-hari.
5. Olah Mimik
Perangkat wajah dan sekitarnya,
menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan
memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher
kepala, secara berkesinambungan. Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata
merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar
lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor.
Meskipun bermacam gerakan sudah
bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan
ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang
meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.
6. Olah Tubuh
Warming-Up
atau pemanasan sebaiknya menjadi dasar dalam pelajaran acting. Melatih
kelenturan tubuh, memulai dari organ yang paling atas, hingga yang paling
bawah. Latihan ini ditempuh untuk mencapai kesiapan secara fisik, sebelum
menghadapi latihan-latihan lainnya.
Olah tubuh bisa dilakukan dengan
berbagai pendekatan pada balet, namun kalau di Indonesia sangat mungkin
berangkat dari pencak silat atau tari daerahnya masing-masing seperti
kebanyakan aktor. Banyak aktor pemula selalu gagal dalam menampilkan segi
kesempurnaan Artistik, karena pada waktu puncak klimaks selalu diserang oleh
kekakuan, mengalami ketegangan urat.
Kekejangan ini memberikan pengaruh buruk
pada emosi bagi pemeran yang sedang menghayati perannya, apabila hal ini
menimpa organ suara maka seorang yang mampunyai suara baik menjadi parau bahkan
bisa kehilangan suara, jika kekejangan itu menyerang kaki maka orang itu
berjalan seakan lumpuh, jika menimpa tangannya akan menjadi kaku.
Untuk mengendurkan
ketegangan urat ada bermacam cara latihan, dengan melalui latihan gerak, senam,
tari-tari. Hingga gerakkan dapat tercipta dengan gerakan artistic, dan dapat
lahir dari inter akting (gerakan dalam).
Olah tubuh sebaiknya dilakukan sau jam
setengah setiap hari, dalam dua tahun terus menerus, untuk memperoleh aktor
yang enak dipandang mata, subjeknya: Senam irama; Tari Klasik, Main anggar, berbagai
jenis latihan bernapas, latihan menempatkan suara diksi, bernyanyi, pantomim,
tata rias.
Artikel by Jenglot Tiyang Alit





